
Jakarta – Tren menyimpan nasi di dalam freezer sebelum disantap belakangan tengah ramai dibahas di media sosial. Cara ini disebut-sebut bukan hanya praktis, tetapi juga dapat membuat nasi lebih baik bagi kadar gula darah.
Namun, apakah nasi yang sudah didinginkan atau dibekukan benar-benar lebih sehat dibandingkan nasi putih yang baru matang?
dr. Dion Haryadi melalui akun Instagram @dionharyadi menjelaskan bahwa nasi memiliki dua jenis pati, yaitu pati yang mudah dicerna dan pati resisten. Proses pendinginan dapat mengubah sebagian pati menjadi pati resisten.
Pendinginan Nasi Bisa Memengaruhi Pati
Menurut dr. Dion, pati resisten lebih sulit dicerna oleh tubuh. Karena itu, semakin banyak pati resisten dalam makanan, respons kenaikan gula darah setelah mengonsumsinya dapat menjadi lebih lambat.
“Nah, proses mendinginkan nasi dapat meningkatkan kandungan dari pati resistennya. Ini nggak cuma di nasi putih ya, ada juga penelitian pada roti yang menghasilkan respons yang sama. Semakin tinggi pati resistennya, maka semakin lambat juga lonjakan gula darah saat kita konsumsi,” jelasnya.
Temuan serupa juga pernah diteliti di Universitas Indonesia. Nasi yang sebelumnya dibekukan kemudian dipanaskan kembali diketahui dapat memberikan respons glikemik yang lebih rendah dibandingkan nasi dalam kondisi tertentu.
Meski demikian, perubahan kandungan pati resisten tersebut ternyata tidak terlalu besar.
Pati Resisten Naik, tetapi Tidak Drastis
Dalam penelitian yang dibahas, kandungan pati resisten meningkat dari sekitar 0,6 gram menjadi 1,6 gram per 100 gram nasi setelah proses pendinginan.
Artinya, memang terdapat perubahan, tetapi jumlah tersebut tidak serta-merta membuat nasi beku menjadi makanan yang jauh lebih sehat dibandingkan nasi hangat.
Penelitian tersebut juga tidak mengukur secara lebih lanjut perubahan kandungan kalori dan karbohidrat pada nasi yang telah didinginkan. Berdasarkan data yang tersedia, perubahan kalori diperkirakan tidak signifikan.
Karena itu, anggapan bahwa nasi dingin atau nasi beku memiliki kalori jauh lebih rendah perlu diluruskan.
Kalori Nasi Beku Tidak Turun hingga 50 Persen
dr. Dion menyoroti klaim di media sosial yang menyebut proses membekukan nasi dapat mengurangi kalorinya hingga 50-60 persen.
“Padahal ya sebenarnya nggak. Jumlah kalorinya itu nggak beda jauh dan tetap harus dikonsumsi secukupnya,” ujarnya.
Menurutnya, klaim tersebut berpotensi membuat orang mengonsumsi nasi dalam jumlah lebih banyak karena menganggap kalorinya sudah berkurang drastis.
“Kalau begitu, orang-orang bisa saja makan sampai 2 kali lipat lebih banyak, padahal nasi putih hangat juga sebenarnya sama sehatnya kok,” lanjutnya.
Dengan kata lain, mengganti nasi hangat dengan nasi beku bukan berarti seseorang bebas mengonsumsi nasi dalam jumlah berlebihan.
Lauk dan Sayuran Juga Berpengaruh
Respons gula darah setelah makan tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi nasi. Makanan yang disantap bersama nasi juga memiliki peran penting.
dr. Dion menjelaskan bahwa dalam penelitian, peserta umumnya mengonsumsi nasi putih secara langsung tanpa kombinasi lauk dan sayuran seperti pola makan sehari-hari.
“Kalau yang di penelitian, mereka (partisipan) biasanya cuma makan nasi putih saja. Nah, kalau kita, siapa di sini yang cuma makan nasi putih saja? Kan pasti sama sayuran dan lauk pauk. Dan itu semua akan menurunkan indeks glikemiknya,” jelasnya.
Karena itu, mengonsumsi nasi bersama sumber protein, sayuran, dan makanan bergizi lainnya dapat membantu membuat pola makan menjadi lebih seimbang.
Jadi, Lebih Sehat atau Sekadar Lebih Praktis?
Nasi yang didinginkan atau dibekukan memang dapat meningkatkan jumlah pati resisten dan berpotensi menghasilkan respons gula darah yang lebih rendah. Namun, efek tersebut tidak berarti nasi beku otomatis jauh lebih sehat atau memiliki kalori yang jauh lebih sedikit.
Bagi orang yang menyukai nasi beku karena lebih praktis untuk disimpan dan dikonsumsi kembali, kebiasaan tersebut tetap dapat dilakukan dengan memperhatikan keamanan penyimpanan dan pemanasan makanan.
“Nggak lebih sehat, tapi bisa mempermudah hidupmu, yaudah lanjutkan, silakan,” kata dr. Dion.
Sebaliknya, orang yang lebih menyukai nasi hangat atau nasi yang baru matang juga tidak perlu merasa khawatir. Keduanya tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat selama dikonsumsi dalam porsi yang sesuai.
Pada akhirnya, kualitas pola makan secara keseluruhan jauh lebih penting daripada sekadar memilih nasi beku atau nasi hangat. Lengkapi nasi dengan lauk bergizi dan sayuran serta tetap perhatikan jumlah yang dikonsumsi.
